Darmawan Anggota Bawaslu Pasangkayu Bekali Peserta LDKS SMAN 1 Pasangkayu dengan Seni Retorika
|
Pasangkayu, 19 September 2026 – Kemampuan berbicara di hadapan orang lain bukan sekadar persoalan keberanian untuk tampil di depan publik. Di balik sebuah komunikasi yang efektif, terdapat kemampuan menyusun gagasan, membangun kepercayaan, menyentuh emosi, serta menyampaikan pesan secara logis dan meyakinkan.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Anggota Bawaslu Kabupaten Pasangkayu, Darmawan, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) UPTD SMAN 1 Pasangkayu, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Merah Putih UPTD SMAN 1 Pasangkayu tersebut dilaksanakan pada pukul 13.30–15.00 WITA, dengan mengangkat materi “Retorika”. Di hadapan para peserta LDKS, Darmawan mengajak siswa memahami bahwa kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter kepemimpinan.
Dalam pemaparannya, Darmawan menjelaskan bahwa retorika berasal dari bahasa Yunani Tecne Rhetorike, yang berkaitan dengan ilmu tentang seni berbicara. Dalam pengertian yang lebih luas, retorika merupakan keterampilan menggunakan bahasa secara efektif, termasuk dalam berpidato, menyampaikan gagasan, membujuk, maupun memengaruhi pendengar.
Menurutnya, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki gagasan yang baik. Gagasan tersebut harus mampu dikomunikasikan sehingga dapat dipahami oleh orang lain.
Retorika, lanjut Darmawan, bukan sekadar bagaimana seseorang berbicara panjang dan terdengar meyakinkan. Lebih dari itu, komunikasi yang baik harus mampu membuat audiens memahami, mempercayai, dan merasakan pentingnya pesan yang disampaikan, sehingga pesan tersebut dapat mendorong lahirnya tindakan.
“Ketika kita berbicara, yang harus kita pikirkan bukan hanya apa yang ingin kita sampaikan, tetapi bagaimana orang yang mendengarkan dapat memahami dan menerima pesan tersebut,” menjadi inti pendekatan yang ditekankan dalam materi tersebut.
Tiga Pilar yang Membentuk Retorika
Untuk memperkuat pemahaman peserta, Darmawan menguraikan tiga pilar utama dalam retorika, yakni Ethos, Pathos, dan Logos.
Ethos berkaitan dengan kredibilitas pembicara. Kepercayaan audiens terhadap seorang komunikator dibangun melalui keahlian, karakter, serta integritas yang dimilikinya. Dengan demikian, seorang pemimpin harus mampu menunjukkan bahwa apa yang disampaikannya memiliki dasar dan didukung oleh karakter yang dapat dipercaya.
Selanjutnya, Pathos merupakan pendekatan emosional dalam komunikasi. Melalui pathos, seorang pembicara berusaha menyentuh perasaan, membangun empati, serta menggugah semangat pendengar. Aspek ini menjadi penting karena komunikasi tidak selalu hanya berbicara tentang fakta, tetapi juga tentang bagaimana pesan dapat menyentuh sisi kemanusiaan audiens.
Sementara itu, Logos menekankan penggunaan nalar dan argumentasi yang masuk akal. Pesan yang disampaikan perlu diperkuat dengan fakta dan data yang valid sehingga dapat diterima secara rasional oleh pendengar.
Ketiga unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang efektif. Kredibilitas membangun kepercayaan, emosi membangun keterhubungan dengan audiens, sedangkan logika memperkuat argumentasi yang disampaikan.
Retorika dan Kepemimpinan
Darmawan juga mengajak peserta melihat retorika bukan hanya sebagai kemampuan berbicara di depan umum, tetapi sebagai sebuah disiplin ilmu yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pemikiran dan komunikasi manusia.
Dalam materi yang disampaikan, pemikiran mengenai retorika dikaitkan dengan sejumlah tokoh. Richard memandang retorika sebagai ilmu yang mengajarkan bagaimana mengolah tutur kata untuk membina saling pengertian. Sementara Socrates menempatkan dialog sebagai bagian dari proses pencarian kebenaran. Adapun Aristoteles melihat retorika sebagai ilmu yang mengajarkan keterampilan menyusun tutur kata secara efektif untuk mempersuasi pihak lain.
Bagi peserta LDKS, pembahasan tersebut menjadi relevan karena kepemimpinan siswa tidak hanya membutuhkan keberanian mengambil keputusan, tetapi juga kemampuan menyampaikan ide dan membangun komunikasi dengan lingkungan sekitar.
Seorang ketua organisasi, misalnya, dituntut mampu menyampaikan gagasan kepada anggota, mengajak orang lain bekerja bersama, menyelesaikan perbedaan pendapat, hingga menyampaikan aspirasi secara terstruktur. Dalam situasi tersebut, kemampuan retorika menjadi instrumen penting untuk memastikan sebuah gagasan tidak berhenti sebagai pemikiran pribadi, tetapi dapat dipahami dan diterima oleh orang lain.
Membentuk Pemimpin Muda yang Mampu Berkomunikasi
Kehadiran Darmawan sebagai narasumber dalam LDKS menjadi bagian dari proses pembekalan kepada peserta untuk mengenali kemampuan komunikasi sebagai salah satu modal kepemimpinan.
Materi retorika memberikan ruang bagi siswa untuk memahami bahwa berbicara efektif bukan semata-mata tentang suara yang lantang ataupun tampil percaya diri. Lebih jauh, komunikasi membutuhkan kredibilitas, pendekatan emosional, serta argumentasi yang logis.
Dari Aula Merah Putih UPTD SMAN 1 Pasangkayu, pesan tersebut menjadi bekal penting bagi para peserta LDKS untuk terus mengembangkan kemampuan diri. Sebab, kepemimpinan yang kuat tidak hanya lahir dari keberanian untuk berada di depan, tetapi juga dari kemampuan untuk menyampaikan gagasan, mendengarkan orang lain, membangun kepercayaan, dan menggerakkan orang melalui komunikasi yang efektif.
Penulis/Editor: Muhammad Mujahidin Syarifuddin