Lompat ke isi utama

Berita

Jumat Sehati Bawaslu Pasangkayu: Ustadz Ahmad Ingatkan Integritas, Amanah, dan Bahaya Saling Menjelekkan

UTAMA

Pasangkayu, 14 Agustus 2026 — Menjadi pengawas pemilu bukan hanya tentang memahami aturan, tetapi juga tentang menjaga integritas, amanah, dan moral dalam setiap pelaksanaan tugas. Nilai tersebut menjadi pesan penting dalam kegiatan Jumat Sehati yang dilaksanakan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Pasangkayu, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan yang diisi dengan tausiah pembinaan rohani tersebut berlangsung khidmat di Ruang Rapat Sekretariat Bawaslu Kabupaten Pasangkayu. Tausiah menghadirkan Ustadz Ahmad sebagai penceramah dan diikuti oleh jajaran Bawaslu Kabupaten Pasangkayu.

Hadir dalam kegiatan tersebut Darmawan, S.H., Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa (PPPS), serta Moh. Fajar Purnomo, Anggota Bawaslu Kabupaten Pasangkayu sekaligus Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat (HP2H).

Turut mengikuti kegiatan, Koordinator Sekretariat Bawaslu Kabupaten Pasangkayu, Sarwan, S.E., bersama seluruh jajaran staf PNS dan PPNPN Sekretariat Bawaslu Kabupaten Pasangkayu.

Amal dan Integritas Menjadi Bekal Pengabdian

Dalam tausiahnya, Ustadz Ahmad mengajak seluruh jajaran untuk senantiasa meningkatkan amal dan memperbaiki kualitas diri. Ia mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang terlihat secara lahiriah, tetapi juga oleh amal dan kebaikan yang dilakukan selama hidup.

Menurutnya, manusia perlu terus berupaya meningkatkan amal sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

“Tidak ada manusia yang masuk surga hanya karena amalnya. Karena itu, mari kita senantiasa meningkatkan amal kita,” pesan Ustadz Ahmad.

Pesan tersebut menjadi refleksi bagi jajaran Bawaslu untuk tidak hanya mengejar keberhasilan dalam menjalankan tugas kelembagaan, tetapi juga menjadikan setiap pekerjaan sebagai bagian dari pengabdian yang memiliki nilai kebaikan.

Jangan Saling Menjelekkan

Ustadz Ahmad kemudian mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan hubungan antarsesama. Ia mengajak seluruh peserta untuk menghindari kebiasaan menjelek-jelekkan orang lain maupun kelompok lain.

Ia mengutip pesan moral bahwa suatu kaum tidak sepatutnya merendahkan atau menjelek-jelekkan kaum lainnya, sebab bisa jadi pihak yang direndahkan justru memiliki kedudukan yang lebih baik.

“Janganlah suatu kaum menjelek-jelekkan kaum yang lain, karena biasanya yang menjelek-jelekkan tidaklah lebih baik dari yang dijelekkan,” ungkapnya.

Menurutnya, kebiasaan saling menjatuhkan dapat muncul karena adanya kepentingan tertentu, termasuk persaingan untuk mendapatkan posisi atau kedudukan. Jika tidak dikendalikan, sikap tersebut dapat merusak hubungan sosial dan menghilangkan nilai persaudaraan.

Karena itu, ia mengajak jajaran untuk membangun komunikasi yang sehat, saling menghargai, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan.

Amanah dan Jabatan Bukan untuk Dikejar

Pesan lain yang disampaikan Ustadz Ahmad berkaitan dengan kepemimpinan dan amanah. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak memilih seseorang hanya karena orang tersebut sangat berambisi untuk mendapatkan jabatan.

Menurutnya, keinginan yang berlebihan terhadap suatu posisi perlu menjadi perhatian karena jabatan merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

“Jangan engkau memilih pemimpin yang ingin sekali menduduki jabatan atau amanah, karena bisa jadi ketika berada di posisi yang diinginkannya, ia akan melakukan segala sesuatu untuk mempertahankan atau mencapai kepentingannya,” pesannya.

Dalam konteks penyelenggaraan pemilu, pesan tersebut menjadi relevan karena setiap jabatan dan tanggung jawab merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh integritas, bukan menjadi ruang untuk memenuhi kepentingan pribadi maupun kelompok.

Penyelenggara Pemilu Harus Menjaga Integritas

Lebih lanjut, Ustadz Ahmad mengingatkan bahwa jajaran penyelenggara pemilu memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat dan demokrasi. Karena itu, integritas harus menjadi prinsip utama dalam menjalankan setiap tugas.

“Kita sebagai penyelenggara pemilu harus tetap berintegritas dan sesuai dengan amanah Undang-Undang Dasar dan konstitusi,” tegasnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa penyelenggara pemilu tidak hanya dituntut memiliki kompetensi teknis, tetapi juga harus memiliki karakter yang kuat, jujur, adil, dan mampu menjaga kepercayaan masyarakat.

Integritas menjadi fondasi penting agar setiap proses pengawasan pemilu dapat berjalan secara profesional serta mampu memberikan rasa keadilan bagi seluruh pihak.

Menjaga Aib, Merawat Persaudaraan

Menutup tausiahnya, Ustadz Ahmad mengajak seluruh jajaran untuk membangun budaya saling menjaga dan menutup aib sesama manusia.

Menurutnya, manusia memiliki kekurangan masing-masing sehingga tidak semestinya seseorang menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan untuk menjatuhkan atau mempermalukannya.

“Mari kita menutup aib sesama manusia,” pesannya.

Nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan kerja maupun kehidupan bermasyarakat. Saling menjaga kehormatan, menghindari prasangka buruk, serta membangun sikap saling menghargai menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan harmonis.

Penulis/editor: Muhammad Mujahidin Syarifuddin
Dokumentasi: Muhammad Mujahidin Syarifuddin